Teliti Bahasa Enggano, Universitas Bengkulu Gandeng Oxford University Inggris



BENGKULU, IPHEDIA.com - Untuk meneliti salah satu bahasa daerah Bengkulu, yakni bahasa masyarakat suku-suku di Enggano, Universitas Bengkulu bekerjasama dengan Universitas Oxford Inggris.

"Bahasa Enggano ini termasuk bahasa yang terancam punah," ujar Kepala Kerja Sama dan Layanan Internasional Universitas Bengkulu, Yansen, di Bengkulu, Kamis (30/1/2020).

Ia mengatakan, penelitian ini terkait beberapa hal seperti dokumentasi bahasa, melalui cerita, percakapan dan lainnya, kedua meriset struktur bahasa di Enggano dan ketiga tentang pemberdayaan atau terkait program dengan komunitas.

Universitas lain yang mendukung penelitian ini dari Endangered Language Fund melalui Prof Mary Darymple, ahli bahasa di Universitas Oxford Inggris.

Selain dari Oxford, penelitian ini juga melibatkan Prof I Wayan Arka dari Australian National University sedangkan dari Universitas Bengkulu yang terlibat, antara lain Dr Arono dari FKIP, Dr Irma Diani dan Dr Wisma Yunita.

Pada pertemuan lalu, pihak Jurusan Bahasa dan Seni mengusulkan agar ahli linguistik bahasa lokal Universitas Bengkulu juga terlibat, antara lain Dr Sarwit Sarwono yang telah lama melakukan penelitian terhadap bahasa lokal Bengkulu, misalnya Bahasa Rejang dan Enggano. "Kita juga melibatkan Kantor bahasa Bengkulu," katanya.

Secara umum riset ini dilakukan dengan langsung terjun ke lapangan dengan metode dokumentasi untuk mencatat teks oral dalam banyak bentuk seperti cerita rakyat, percakapan, kegiatan budaya dan aktivitas hardan mayarakat.

Nantinya, hasil riset ini akan dikembangkan menjadi muatan lokal bahasa Enggano untuk sekolah di sana. Dengan adanya riset tersebut ia berharap ada studi ilmiah terkait bahasa Enggano dan keterkaitan dengan bahasa austronesia lainnya, serta upaya pelestarian bahasa dengan menggiatkan penggunaan di kalangan muda dan menghasilkan referensi terkait bahasa Enggano. (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top