-->

KPK Periksa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Selama 6 Jam dengan 24 Pertanyaan



JAKARTA, IPHEDIA.com - Dalam penyidikan kasus dugaan suap terkait proses pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI terpilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan periode 2019-2024, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), memeriksa Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, Jumat (24/1/2020).

Hasto diperiksa untuk tersangka Saeful (SAE) dari unsur swasta dalam penyidikan tindak pidana korupsi suap tersebut. "Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka SAE," ujar Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri.

Usai pemeriksaan, Hasto mengaku dirinya dimintai keterangan sebagai saksi terhadap dugaan tindak pidana suap yang melibatkan eks anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan, yang menjadi salah satu tersangka dalam perkara ini.

Selain itu, dia juga menjelaskan kronologis terkait dengan keputusan PDIP menunjuk Harun Masiku menjadi anggota DPR menggantikan calon terpilih anggota DPR RI dari PDIP Dapil Sumatera Selatan I, Nazarudin Kiemas, yang meninggal dunia.

Hasto diperiksa sekitar 6 jam dan mendapat 24 pertanyaan dari penyidik KPK. Selain Hasto, KPK juga memeriksa Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Evi Novida Ginting Manik, dan Hasyim Asy'ari.

Terkait pernyataan Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristianto, yang menyebut bahwa tersangka suap terkait dengan PAW anggota DPR RI dari Fraksi PDIP periode 2019—2024 Harun Masiku (HAR) adalah korban, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, membantahnya.

"Ketika kami tetapkan tersangka dengan bukti permulaan yang cukup bahwa ada dugaan tindak pidana korupsi terkait dengan pemberian dan penerimaan suap," kata Ali Fikri, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Sebelumnya, Hasto mengatakan bahwa berdasarkan konstruksi hukum yang telah dibangun oleh Tim Hukum PDIP, Harun Masiku bukanlah tersangka, melainkan korban dalam perkara ini.

"Dari seluruh konstruksi hukum yang dilakukan oleh tim hukum kami, dia menjadi korban karena tindak penyalahgunaan kekuasaan itu," kata Hasto usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat siang.

Menurut Ali, masih terlalu dini untuk menilai Harun sebagai korban sebab hingga saat ini penyidik KPK telah memiliki alat bukti yang cukup untuk menjerat Harun sebagai tersangka dugaan suap.

"Karena tentunya bagi kami berdasarkan bukti permulaan yang cukup, pelaku adalah tindak pidana dalam hal ini adalah tindak pidana korupsi suap-menyuap, pemberi kepada penyelenggara negara," ujar Ali. (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top