Gubernur Minta Bulog Lampung Perkuat Daerah Jadi Lumbung Pangan Sumatera



BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Selain lembaga yang bertanggung jawab pada ketersediaan pangan, Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah Lampung diminta bersinergi dengan Pemprov Lampung memperkuat posisi daerah setempat sebagai lumbung pangan nasional, khususnya untuk wilayah Sumatera.

"Bulog haruslah selalu bersinergi dengan pemerintah provinsi untuk memperkuat posisi daerah ini menjadi lumbung pangan Sumatera," kata Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, di Bandarlampung, Jumat (31/1/2020).

Selain itu, Gubernur Arinal juga meminta Bulog melakukan inovasi dan terobosan seperti melihat peluang-peluang baru, untuk membantu kesejahteraan petani di Lampung.

Menurutnya, Bulog jangan hanya berfokus pada komoditas beras, namun harus mengkaji kemungkinan pada sektor pangan dan komoditas selain beras.

Ia berharap Bulog dapat membuka komunikasi dengan daerah–daerah lain untuk bermitra. Sehingga diharapkan jangkauan pemasaran komoditas pangan asal Lampung akan semakin luas yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Sebagai langkah awal, Gubernur mengharapkan Bulog segera berkoordinasi dengan dinas – dinas terkait untuk memantau regulasi perdagangan beras dan ketersediaan stok pangan sesuai dengan peran utama Perum Bulog.

"Kita boleh terus berinovasi, namun Bulog tidak keluar dari kapasitas dan kaidah-kaidah peran Bulog itu sendiri, yakni pilar ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan. Bulog harus memastikan penduduk miskin di Lampung itu harus terus diperhatikan," katanya.

Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Kanwil Lampung, Faisal, memperkenalkan komoditas komersial yang dimiliki Bulog yakni beras grade premium dan beras FortiVit.

"Khusus untuk beras FortiVit adalah variant beras yang telah diperkaya dengan zat gizi mikro yang dipilih untuk fortifikasi bahan makanan tertentu, dengan tujuan meningkatkan nilai gizi bahan pangan tersebut,” terang faisal.

Menurut Faisal, beras FortiVit dapat dijadikan salah satu solusi untuk kebutuhan pangan yang bergizi bagi anak–anak dengan resiko kekurangan gizi dan anak stunting (kuntet). (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top