-->

Bupati Nonaktif dan Mantan Wakil Bupati Lampung Utara Saksi Sidang Kasus Suap



BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Bupati Nonaktif dan mantan Wakil Bupati Kabupaten Lampung Utara (Lampura), Provinsi Lampung, menjadi saksi kasus suap dalam sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (20/1/2020).

Keduanya dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi saksi bersama empat saksi lainnya untuk kasus suap fee proyek infrastruktur di Dinas PUPR dan Dinas Perdagangan Kabupaten Lampung Utara dengan dua terdakwa, yakni Candra Syafari dan Hendra Wijaya.

"Kami menghadirkan enam saksi, yakni Raden Syahril, Agung Ilmu Mangkunegara, Taufik Hidayat, Sri Widodo, Sairul Hanibal, dan Abdurahman," ujar JPU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiq Ibnugroho, di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Bandarlampung, Senin (20/1/2020).

Bersama Agung Ilmu Mangkunegara hadir pula Raden Syahril alias Ami orang kepercayaannya yang juga menjadi tersangka dalam perkara ini. Keduanya dihadirkan kedalam persidangan untuk mengetahui aliran yang masuk ke Bupati Lampung Utara dari dua terdakwa.

Sidang pertama mendengarkan kesaksian Raden Syahril. Sementara lima saksi lainnya meninggalkan ruangan sidang atas permintaan dari Jaksa KPK. Dalam sidang, JPU KPK mempertanyakan hubungan saksi dengan Bupati nonaktif Lampung Utara.

Saksi mengakui pernah diperintah Agung Ilmu Mangkunegara untuk mengambil uang perencanaan proyek sebesar Rp1 miliar dari Kadis PUPR, Syahbuddin. Uang itu dibagi dua tahap untuk diberikan kepada Bupati Nonaktif Agung Ilmu Mangkunegara.

"Pertama, menyerahkan uang dari Syahbuddin sebesar Rp600 juta kepada bupati. Lalu, yang kedua menyerahkan uang Rp400 juta, saat itu detik-detik OTT KPK pada Oktober 2019," ungkapnya.

Ami menyebutkan, selain mendapatkan aliran fee proyek dari Kadis PUPR Syahbuddin sebesar Rp1 miliar, ia juga menerima fee dari Wan Hendri sebesar Rp 240 juta, yang mana Rp10 juta untuknya dan Rp 230 untuk bupati.

"Saya kaget ada OTT, itu uang yang nyampai ke Bupati (Agung) hanya Rp200 juta, dan Rp30 juta tidak saya serahkan karena tercecer di mobil. Bagaimana saya serahkan karena saya sudah di OTT," jelasnya. (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top